PPDB Dilakukan Secara Daring, Solusikah?

oleh -77 views

Eviyanti
Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif

LimaQa.com – Adanya penyebaran covid-19 ini, berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Apa daya, kita tidak pernah menghendaki wabah penyakit ini. Berdasarkan data Kemdikbud, lebih dari 160 pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi mengeluarkan surat edaran KBM di kelas. Siswa dan guru diminta melakukan aktivitas belajar mengajar dari rumah. Belajar jarak jauh pun bisa dilakukan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Untuk ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyediakan aplikasi dan laman Rumah Belajar sebagai sarana pendukung belajar di rumah.

Namun faktanya, proses belajar di rumah penuh dinamika. Mulai dari guru yang memberikan tugas kepada siswa tanpa bimbingan. Biaya yang dikeluarkan untuk internet, karena tidak semua orang tua mampu. Untuk sekedar bisa bertahan di tengah wabah dengan ekonomi sulit seperti sekarang ini pun sudah sangat bersyukur. Dan permasalahan lain adalah masih banyaknya daerah yang belum atau tidak terakses internet, untuk bisa mengikuti pembelajaran secara daring atau online ini.

Dengan segala polemik pembelajaran secara online/ daring ini, mau tidak mau memaksa pemerintah untuk melakukan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2020-2021 secara daring pula.

Seperti yang dilansir oleh ayobandung.com, Rabu (13/05/2020), Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung mulai melakukan persiapan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2020-2021. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Juhana mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan sosialisasi awal proses PPDB kepada seluruh sekolah baik SMP maupun SD.

“PPDB akan dilakukan Juni. Sekarang sedang melakukan persiapan dan sosialsiasi awal,” tutur Juhana, Rabu (13/5/2020).

Persiapan meliputi penyiapan situs web khusus untuk PPDB secara daring. Dia menjelaskan, pendaftaran daring akan diberlalukan di seluruh SMP yang ada di Kabupaten Bandung.

“Untuk SMP seluruhnya online. Kalau SD masih konvensional,” ujarnya.

Bagi daerah tertentu yang keterbatasan jaringan internet, kata Juhana, orang tua akan dibantu oleh operator SD sekolah asal.

“Tiap sekolah kan ada operatornya. Kalau ada keterbatasan daftar SMP secara online baik karena tidak punya HP android atau tidak ada sinyal, datang saja ke SD asal di sana akan dibantu oleh operator sekolah,” ujarnya.

Namun, apakah ini satu-satunya solusi? Karena tidak semua bisa mengakses daring, sementara datang kesekolah langsung berisiko tinggi, setelah itu bagaimana dengan aktivitas belajar mengajar ke depan? Maka belajar melalui daring masih menjadi satu-satunya pilihan saat ini, sementara masih banyak siswa yang belum bisa mengakses jaringan internet.

Ini yang terjadi ketika sistem kapitalis yang berkuasa, membuat suatu kebijakan tidak dicermati dan dipikir baik dan buruknya secara keseluruhan. Dengan menerapkan pembelajaran bahkan melakukan penerimaan peserta didik baru (PPDB) pun secara daring/online seperti sekarang ini, padahal faktanya masih banyak siswa yang tidak terakses oleh internet.

Namun, sistem Islam mempunyai solusi atas permasalahan ini. Dimana dalam Daulah Islam yakni negara khilafah menguasai ilmu dan teknologi komunikasi yang handal. Maka, keterbatasan guru, siswa, orang tua, bahkan akses internet pun, untuk melakukan pembelajaran daring bisa diminimalisasi. Berbeda dengan kondisi saat ini, masih banyak guru, siswa, dan orang tua yang gagap teknologi komunikasi. Padahal, pembelajaran jarak jauh telah cukup banyak digunakan di berbagai belahan dunia. Hanya saja, kapitalisme telah membelenggu banyak kalangan dari mengenal dan menggunakan teknologi ini. Baik karena keterbatasan ekonomi untuk memiliki alat (media) dan akses internet, maupun keterbatasan ilmu.

Dalam sejarah, negara khilafah dikenal sebagai negara maju yang menguasai jagad teknologi. Berbagai penemuan teknologi dilakukan oleh kaum muslim. Hal ini, karena Islam mendorong setiap muslim untuk terus belajar dan mengembangkan ilmunya. Negara pun mendukung sepenuhnya.

Belajar di rumah dalam khilafah ditopang oleh perekonomian yang stabil bahkan maju. Dengan kondisi tersebut, negara mampu menopang kehidupan ekonomi rakyat yang membutuhkan bantuan akibat lockdown. Tak hanya dalam pemenuhan kebutuhan pokok, negara khilafah juga mampu memberikan berbagai fasilitas pendukung pembelajaran. Negara menyediakan platform pendidikan gratis dan sarana pendukungnya, seperti internet gratis dan media (alat komunikasinya).

Mahasiswa dan para orang tua tak perlu teriak meminta keringanan biaya pendidikan, karena dalam kondisi tidak wabah pun dibiayai oleh negara. Walhasil, semua kebutuhan belajar di rumah tidak ada kendala, karena negara men-support penuh semua kebutuhan tersebut. Yakni, negara yang menerapkan syariat Islam.

Mari kita tinggalkan sistem bobrok ini yang telah lama menyengsarakan rakyat. Saatnya kembali kepada sistem Islam, sistem yang berasal dari Allah Swt. Sistem yang menyejahterakan seluruh umat manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *